Surakarta dikenal sebagai kota budaya yang menjunjung tinggi sopan santun, keselarasan, dan nilai-nilai tradisional seperti guyub rukun dan ewuh pakewuh. Di tengah karakter budaya yang menjunjung keharmonisan tersebut, kehadiran dark jokes dalam pertunjukan stand-up comedy justru menarik perhatian pelajar sebagai audiens utama. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini menggali konstruksi makna dark jokes serta faktor-faktor yang memengaruhi penerimaannya di kalangan pelajar penikmat stand-up comedy di Surakarta. Hasil menunjukkan bahwa dark jokes dimaknai bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai bentuk ekspresi keresahan sosial dan kritik terhadap isu-isu tabu. Proses pembentukan makna berlangsung melalui tahapan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Penerimaan terhadap dark jokes dipengaruhi oleh latar belakang budaya lokal, segmentasi audiens, pengalaman personal komika, fungsi sosial humor, tingkat paparan, batasan etika, serta kurasi materi. Fenomena ini memperlihatkan adanya negosiasi antara ekspresi budaya populer dan nilai-nilai tradisional dalam benak generasi muda Surakarta.
Copyrights © 2025