Produksi benih bawang merah secara mandiri merupakan salah satu upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usahatani hortikultura, khususnya di wilayah pedesaan. Di Kalurahan Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, bawang merah menjadi komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun demikian, sebagian besar petani masih bergantung pada benih dari luar daerah, yang harganya cenderung mahal dan ketersediaannya tidak selalu terjamin. Kondisi ini mendorong pentingnya pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian petani dalam memproduksi benih bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal terhadap kemandirian petani dalam produksi benih bawang merah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei.Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 80 orang petani bawang merah yang berada di Kalurahan Karangrejek.Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan metode regresi linier berganda melalui program SPSS. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan, variabel umur, pengalaman berusahatani, modal usahatani, luas lahan, peran penyuluh, dukungan pemerintah, dan peran kelompok tani berpengaruh signifikan terhadap kemandirian petani (F hitung = 4,385; sig. = 0,000). Namun secara parsial, hanya dua variabel yang berpengaruh signifikan, yaitu modal usahatani (t = 2,198; sig. = 0,031) dan dukungan pemerintah (t = 2,420; sig. = 0,018). Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,231 menunjukkan bahwa 23,1% variasi kemandirian petani dapat dijelaskan oleh model, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa modal dan dukungan pemerintah merupakan faktor dominan dalam mendorong petani untuk lebih mandiri dalam produksi benih. Oleh karena itu, peningkatan akses permodalan dan penguatan program pendampingan pemerintah perlu menjadi prioritas dalam pemberdayaan petani di daerah
Copyrights © 2025