Artikel ini membahas pengalaman multikulturalisme di tiga negara mayoritas Muslim, yaitu Pakistan, Mesir, dan Turki, dengan fokus pada bagaimana ketiganya mengelola keberagaman etnis, agama, dan budaya dalam konteks sosial-politik masing-masing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis deskriptif-komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun ketiga negara memiliki karakteristik mayoritas Muslim, pendekatan mereka terhadap multikulturalisme sangat beragam. Pakistan menghadapi tantangan dalam integrasi kelompok minoritas akibat dinamika sektarian dan politik identitas. Mesir menunjukkan kecenderungan eksklusivitas budaya yang berdampak pada marginalisasi kelompok non-Muslim, terutama komunitas Kristen Koptik. Sementara itu, Turki memperlihatkan dinamika yang lebih kompleks, di mana sekularisme negara dan aspirasi demokratis berinteraksi dengan identitas etno-religius, khususnya dalam konteks minoritas Kurdi dan komunitas non-Muslim lainnya. Studi ini menyimpulkan bahwa multikulturalisme di negara-negara mayoritas Muslim tidak bersifat monolitik, melainkan dipengaruhi oleh sejarah, kebijakan negara, dan dinamika kekuasaan lokal. Temuan ini penting untuk memperkaya wacana global tentang hubungan antara Islam, negara, dan pluralisme budaya.
Copyrights © 2025