Permukiman tepian sungai di Kota Pontianak menghadapi berbagai perubahan lingkungan yang kompleks, termasuk banjir, abrasi, sedimentasi, dan penurunan tanah. Perubahan ini berdampak secara fisik maupun non fisik. Meskipun banyak perubahan, masyarakat tepian sungai di Pontianak menunjukkan daya tahan yang luar biasa dengan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Adaptasi ini sering kali mengarah pada transformasi fisik permukiman. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi fisik bangunan sebagai respons terhadap tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pentingnya memahami fenomena ini berkaitan dengan ancaman terhadap keberlanjutan budaya permukiman tepian air akibat urbanisasi berbasis aktivitas daratan. Studi kasus dilakukan di Kampung Beting, Tambelan, dan Kamboja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ruang jalan menjadi faktor paling signifikan yang memengaruhi transformasi, dengan dampak pada 100% rumah. Transformasi dari jalan gertak kayu menuju jalan beton mengubah orientasi permukiman dari berbasis sungai menuju aktivitas daratan. Selain itu, ruang gertak sebagai elemen sosial dan infrastruktur memengaruhi 97% rumah. Penelitian ini menemukan tren adaptasi berupa penguatan struktur bangunan dan pelestarian nilai tradisional dengan inovasi material. Hasilnya memberikan wawasan berbasis data untuk pengembangan permukiman yang tangguh dan berkelanjutan, sekaligus melestarikan budaya arsitektur lokal sebagai respons terhadap dinamika lingkungan.
Copyrights © 2025