Pembelajaran hibrida telah menjadi model pendidikan terkemuka di Indonesia, menggabungkan pengajaran tradisional dan digital. Meskipun pendekatan ini menawarkan fleksibilitas, pendekatan ini menimbulkan tantangan psikologis yang unik bagi siswa, seperti kecemasan, kurangnya motivasi, dan kesulitan dengan kemampuan beradaptasi dan interaksi sosial. Studi ini menyelidiki persepsi guru tentang tantangan psikologis ini, menarik data dari 250 responden menggunakan skala Likert (1-5). Pemodelan Persamaan Struktural - Kuadrat Terkecil Parsial (SEM-PLS) 3 digunakan untuk menganalisis hubungan antar konstruk. Hasil menunjukkan bahwa kecemasan berdampak negatif pada keterlibatan, sementara motivasi dan kemampuan beradaptasi memainkan peran penting dalam mengurangi tantangan ini dan mendorong hasil belajar yang positif. Interaksi sosial ditemukan secara signifikan meningkatkan kesejahteraan siswa. Temuan ini menyoroti peran penting wawasan guru dalam mengatasi hambatan psikologis dan meningkatkan pengalaman belajar hibrida. Studi ini menyumbangkan perspektif yang berharga untuk kebijakan dan praktik pendidikan, terutama dalam konteks di mana model pembelajaran hibrida semakin diadopsi.
Copyrights © 2025