Kajian ini dilatar belakangi oleh pentingnya keterkaitan antara budaya lokal dan penafsiran Al-Qur’an, khususnya dalam konteks budaya Sunda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya Sunda diadaptasi dalam tafsir Al-Qur’an serta bagaimana tafsir tersebut berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk menganalisis hubungan antara tafsir dan budaya Sunda melalui perspektif antropologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Ahmad Sanusi tidak hanya menjadi sarana dakwah Islam, tetapi juga berperan dalam melestarikan budaya Sunda. Hal ini tercermin dalam penggunaan bahasa Sunda, sistem undak-usuk basa, serta nilai sosial seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh. Selain itu, Ahmad Sanusi mengakomodasi unsur budaya lokal, seperti tawasul dan pagelaran wayang golek, sebagai media dakwah yang relevan dengan masyarakat Sunda. Dengan demikian, tafsir Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan terhadap teks suci, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang mencerminkan identitas lokal serta membuktikan bahwa ajaran Islam dapat berharmoni dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan nilai-nilai universalnya.
Copyrights © 2025