Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kesehatan global yang berdampak jangka panjang pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kesejahteraan ekonomi anak di masa depan. Di Indonesia, meskipun prevalensi stunting menurun, angka kejadian masih relatif tinggi, termasuk di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dan status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 59 balita berusia 24-36 bulan yang dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri untuk menentukan status stunting berdasarkan Z-score tinggi badan terhadap usia. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 5% untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 54,2% balita menerima ASI eksklusif dan 52,5% memperoleh imunisasi dasar lengkap. Prevalensi stunting sebesar 30,5%. Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p = 0,016; OR = 5,014; 95% CI: 1,485–16,929), serta antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting (p = 0,025; OR = 4,507; 95% CI: 1,342–15,135). Kesimpulan: Riwayat pemberian ASI eksklusif dan status imunisasi dasar memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan di Kota Bandung. Upaya peningkatan edukasi dan cakupan kedua faktor ini sangat penting sebagai strategi pencegahan stunting di daerah perkotaan.
Copyrights © 2025