Peace faces enormous challenges, with conflict and injustice exacerbating relations between individuals and groups. In this context, ecclesiological identity plays an important role in shaping the church as an agent of peace. This research explores the potential of local wisdom, particularly the concept of Paramak so balunon from Batak culture, which teaches deliberation, peaceful resolution, and restoration of relationships in the face of conflict. This concept aligns with the principle of hospitality in the early church tradition, which emphasizes the importance of creating spaces of peace, respecting differences, and restoring damaged relationships. This research aims to design an ecclesiology of peace identity that integrates Paramak so balunon and hospitality to strengthen the church's role as an agent of peace sensitive to the local context. The results of this research provide a practical contribution to building social harmony, encouraging dialogue, and strengthening the church's role in peace efforts, both on a local and global scale. The research method used is qualitative with a literature approach. Perdamaian terus menghadapi tantangan besar, dengan konflik dan ketidakadilan yang memperburuk hubungan antarindividu dan antarkelompok. Dalam konteks ini, identitas eklesiologi memiliki peranan penting dalam membentuk gereja sebagai agen perdamaian. Penelitian ini menggali potensi kearifan lokal, khususnya konsep Paramak so balunon dari budaya Batak, yang mengajarkan musyawarah, penyelesaian damai, dan pemulihan hubungan dalam menghadapi konflik. Konsep ini memiliki keselarasan dengan prinsip hospitalitas dalam tradisi gereja mula-mula, yang menekankan pentingnya menciptakan ruang perdamaian, menghormati perbedaan, dan merestorasi hubungan yang rusak. Penelitian ini bertujuan merancang identitas eklesiologi perdamaian yang mengintegrasikan Paramak so balunon dan hospitalitas untuk memperkuat peran gereja sebagai agen perdamaian yang sensitif terhadap konteks lokal. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam membangun harmoni sosial, mendorong dialog, serta memperkuat peran gereja dalam upaya perdamaian, baik dalam skala lokal maupun global. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan.
Copyrights © 2025