Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

KEMISKINAN DAN KETIDAKADILAN: KAJIAN ETIS TEOLOGIS TENTANG KEMISKINAN SEBAGAI AKIBAT KETIDAKADILAN Sibagariang, julius Stefanus
Jurnal STT Gamaliel Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Gamaliel Vol. 6 No. 2 September 2024
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v6i2.281

Abstract

Kemiskinan adalah suatu fenomena sosial yang nyata di kehidupan kita. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kemiskinan, misalnya saja ketidakadilan. Kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan sering menjadi topik perdebatan dalam forum akademis, politik, dan keagamaan. Alkitab juga menggambarkan kemiskinan yang timbul akibat ketidakadilan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Penelitian ini berfokus pada isu kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan. Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Penulis mengeksplorasi isu ini melalui perspektif etis teologis Kristen, dengan tujuan untuk mengidentifikasi pertimbangan etis yang relevan dan bagaimana orang percaya serta gereja sebaiknya merespons dan menangani kemiskinan akibat ketidakadilan. Hasil penelitian menunjukkan perlunya sikap solider terhadap orang-orang miskin serta sikap protes terhadap tindakan ketidakadilan. miskin dan lemah. Keadilan dan kebenaran Allah harus ditegakkan dalam hububungan-hubungan antar manusia. Tsedeq dan mispat Allah seharusya menjadi dasar dalam menata kehidupan yang lebih baik, sehingga kemiskinan dan ketidakadilan yang ada dapat diatasi dan diminimalisir. Poverty is a social phenomenon that is real in our daily lives. Various factors contribute to poverty, such as injustice. Poverty caused by injustice is often a topic of debate in academic, political and religious forums. The Bible also describes poverty arising from injustice in both the Old and New Testaments. This research focuses on the issue of poverty caused by injustice. The author in this study uses a qualitative research method with a literature approach. The author explores this issue through a Christian theological ethical perspective, with the aim of identifying relevant ethical considerations and how believers and churches should respond to and address poverty caused by injustice. The research results show the need for an attitude of solidarity towards poor people and an attitude of protest against acts of injustice. poor and weak. God's justice and truth must be upheld in relationships between humans. Allah's tsedeq and mispat should be the basis for organizing a better life, so that existing poverty and injustice can be overcome and minimized.
MENYELESAIKAN PEMBERIAN YANG TERTUNDA Sibagariang, Julius Stefanus; Surbakti, Pelita Hati
Jurnal Amanat Agung Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v19i2.616

Abstract

Memberi kepada mereka yang berkekurangan merupakan tradisi gereja di sepanjang masa. Dalam kenyataannya, tradisi ini tidak selalu dapat dilaksanakan, bahkan ada kalanya tertunda dan akhirnya tidak terlaksana. Ada sejumlah faktor penyebab ketika gereja dan/atau anggota jemaat menunda pemberian mereka. Dalam 2 Korintus 8:1-9, rasul Paulus juga menyaksikan jemaat Korintus menunda pemberian mereka. Dengan menggunakan analisis argumentasi serta dikonfirmasi dengan analisis sosial, penulis mencoba menemukan apa penyebab penundaan itu serta apa pula strategi Paulus dalam mendorong jemaat Korintus untuk menuntaskan komitmen mereka untuk memberi. Kesimpulannya, 2 Korintus 8:1-9 memuat strategi Paulus dalam mendorong jemaat Korintus untuk menyelesaikan pemberian yang tertunda itu. Setidaknya ada dua penyebab penundaan ini. Yang pertama adalah gaya hidup kosmopolitan yang memberi perhatian kepada kehidupan mewah serta status sosial. Yang kedua adalah adanya konflik atau setidaknya persepsi negatif di dalam jemaat. Untuk menyikapinya, Paulus menggunakan dua argumentasi untuk mendorong jemaat Korintus. Yang pertama adalah dengan memperlihatkan anugerah kepada jemaat Makedonia yang miskin. Yang kedua adalah dengan memperlihatkan besarnya anugerah Allah dalam diri Yesus Kristus.
Pentingnya Penginjilan Terhadap Orang Yang Terlibat Okultisme Dalam Kisah Para Rasul 19: 1-20 Sibagariang, Julius Stefanus; Sitepu, Sigit Haryanto
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v13i2.304

Abstract

Penginjilan memiliki peran krusial dalam membantu jemaat memahami dan menghindari praktik okultisme. Okultisme, yang berasal dari kata "occult" (gelap, tersembunyi) dan "isme" (paham), merujuk pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib di luar kuasa Tuhan. Kepercayaan ini sering mengarah pada praktik-praktik yang melibatkan roh-roh dan kekuatan supernatural, seperti mitos, perbintangan, dan ritual adat yang dapat menjebak individu dalam kuasa kegelapan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penginjilan dapat mencegah keterlibatan jemaat dalam okultisme dengan menekankan pentingnya pemahaman dan pengajaran yang benar tentang hal tersebut. Teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dijadikan dasar untuk menganalisis penginjilan Paulus dalam menghadapi praktik okultisme di Efesus. Melalui survei terhadap penelitian-penelitan terdahulu, tampaknya belum ada yang mengkaitkan teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dengan pentingnya penginjilan terhadap praktik okultisme. Penelitian ini menggunkana metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, serta metode hermeneutik untuk menganalisi teks Alkitab. Penelitian ini menemukan bahwa penginjilan tidak hanya penting untuk menyebarkan Injil tetapi juga untuk mengatasi tantangan kontemporer seperti okultisme. Melalui metode penelitian kualitatif pendekatan kepustakaan, juga diperkaya dengan hermeneutika analisis deskriptif, penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu mengintegrasikan pentingnya penginjilan terhadap orang-orang yang terlibat praktik okultisme.
Merakit Identitas Eklesiologi Perdamaian: Integrasi Kearifan Lokal Paramak So Balunon dan Hospitalitas dalam Tradisi Gereja Sibagariang, Julius Stefanus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.318

Abstract

Peace faces enormous challenges, with conflict and injustice exacerbating relations between individuals and groups. In this context, ecclesiological identity plays an important role in shaping the church as an agent of peace. This research explores the potential of local wisdom, particularly the concept of Paramak so balunon from Batak culture, which teaches deliberation, peaceful resolution, and restoration of relationships in the face of conflict. This concept aligns with the principle of hospitality in the early church tradition, which emphasizes the importance of creating spaces of peace, respecting differences, and restoring damaged relationships. This research aims to design an ecclesiology of peace identity that integrates Paramak so balunon and hospitality to strengthen the church's role as an agent of peace sensitive to the local context. The results of this research provide a practical contribution to building social harmony, encouraging dialogue, and strengthening the church's role in peace efforts, both on a local and global scale. The research method used is qualitative with a literature approach.   Perdamaian terus menghadapi tantangan besar, dengan konflik dan ketidakadilan yang memperburuk hubungan antarindividu dan antarkelompok. Dalam konteks ini, identitas eklesiologi memiliki peranan penting dalam membentuk gereja sebagai agen perdamaian. Penelitian ini menggali potensi kearifan lokal, khususnya konsep Paramak so balunon dari budaya Batak, yang mengajarkan musyawarah, penyelesaian damai, dan pemulihan hubungan dalam menghadapi konflik. Konsep ini memiliki keselarasan dengan prinsip hospitalitas dalam tradisi gereja mula-mula, yang menekankan pentingnya menciptakan ruang perdamaian, menghormati perbedaan, dan merestorasi hubungan yang rusak. Penelitian ini bertujuan merancang identitas eklesiologi perdamaian yang mengintegrasikan Paramak so balunon dan hospitalitas untuk memperkuat peran gereja sebagai agen perdamaian yang sensitif terhadap konteks lokal. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam membangun harmoni sosial, mendorong dialog, serta memperkuat peran gereja dalam upaya perdamaian, baik dalam skala lokal maupun global. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan.
Traces of Blessing and Birthright: Revealing the Narrative of Jacob and Esau in a Fresh Perspective Sibagariang, Julius Stefanus
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 1 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i1.448

Abstract

This study aims to rediscover the classic narrative of Jacob and Esau in the Book of Genesis, focusing on the concepts of blessing and birthright and their theological and cultural significance. It examines these concepts fresh, considering their deeper spiritual, social, and historical dimensions. Through a critical historical hermeneutic approach and comprehensive textual analysis, this research examines how the relationship between Jacob and Esau reflects personal tensions and reveals the broader dynamics of blessing and birthright within the cultural context of ancient Israel. Ultimately, this study offers a new perspective on the long-standing narrative, providing richer insights into the theological and social implications of the story of Jacob and Esau, particularly concerning the themes of blessing and birthright.
The Key to Mental Health: Social and Semantic Domain Analysis of Sesoken in Matthew 9:22 Sibagariang, Julius Stefanus
Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/jupak.v5i2.220

Abstract

Mental health is an important issue and is one way to achieve a golden Indonesia in 2045. However, in Indonesia, the issue has not received much attention. The authors in this study try to discuss mental health by linking it to the health of faith. The authors found that having healthy faith is the key to mental health. Through social analysis of Matthew 9:20-22, it can be seen that the story of the bleeding woman is about mental health. Even though she is experiencing very heavy suffering, a bleeding woman can still have mental health because of the faith she has. The healthy faith that she has already has a big impact on her mental health. This is clearly seen through Jesus' expression towards her, "...your faith has saved you..." (Matt. 9:22). The word "save" in the text apparently has various translations. Through semantic domain analysis of the words "save” or “sesoken", it turns out that they contain the meaning "to heal". In this way, through social and semantic domain analysis of the word “sesoken” in Matthew 9:22, it becomes clear that healthy faith is the key to mental health.
Imago Dei dan Kercerdasan Buatan: Membaca Ulang Antropologi Kristologis Calvin dalam Konteks Kepribadian Digital: Imago Dei and Artificial Intelligence: Re-reading Calvin's Christological Anthropology in the Context of Digital Personhood Sibagariang, Julius Stefanus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.746

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI), which is capable of mimicking human cognitive and affective functions, raises a fundamental question: can digital entities be considered persons deserving of human dignity? This study aims to re-reading the concept of the soul as substantia within the framework of John Calvin’s Christological anthropology, to provide a solid theological foundation for the discourse on the imago Dei in the age of artificial intelligence. This study employs a qualitative methods, including a literature review of Calvin’s major works—Institutes of the Christian Religion, Psychopannychia, and biblical commentaries—as well as a systematic theological approach and dialogue with contemporary technological issues. The findings reveal that, for Calvin, human personhood is rooted in the soul as the true seat of the imago Dei, not in cognitive or performative capacities. The human soul, as God’s creation, is restored to unity with Christ through the work of the Holy Spirit. This understanding establishes a clear ontological boundary between humans and digital entities, which are artifactual. Thus, Calvin’s Christological anthropology offers an important contribution to building a reflective and ethical framework for the church and society in responding to the advancement of human-like artificial intelligence. Abstrak Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang mampu meniru fungsi kognitif dan afektif manusia, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah entitas digital dapat dikategorikan sebagai person dengan martabat setara manusia? Penelitian ini bertujuan melakukan pembacaan ulang konsep jiwa sebagai substantia dalam kerangka antropologi Kristologis John Calvin, guna memberikan landasan teologis yang kokoh dalam diskursus imago Dei di era kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan terhadap karya-karya utama Calvin—Institutes of the Christian Religion, Psychopannychia, dan tafsiran Alkitab—serta pendekatan teologi sistematik dan dialog dengan isu teknologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi Calvin, kepribadian (personhood) manusia berakar pada jiwa sebagai tempat hakiki imago Dei, bukan pada kapasitas kognitif atau performatif. Jiwa manusia, sebagai ciptaan Allah, dipulihkan dalam kesatuan dengan Kristus melalui karya Roh Kudus. Pemahaman ini menegaskan batas ontologis yang jelas antara manusia dan entitas digital, yang bersifat artefaktual. Dengan demikian, antropologi Kristologis Calvin menawarkan kontribusi penting dalam membangun kerangka reflektif dan etis bagi gereja dan masyarakat dalam merespons kemajuan kecerdasan buatan yang menyerupai manusia. Kata-kata kunci: imago Dei, kecerdasan buatan, substantia, kepribadian digital, Calvin, antropologi
Jejak Misi Calvin: Melampaui Kata, Menggerakkan Dunia Sibagariang, Julius Stefanus; Hutapea, Bona; Simorangkir, Maykel
Missio Ecclesiae Vol 14 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v14i2.388

Abstract

Pemikiran John Calvin (1509–1564) dikenal luas dalam bidang dogmatika dan etika, namun kontribusinya terhadap misi Gereja lintas budaya kerap dipandang kontroversial. Sejumlah kritik, seperti dari Gustav Warneck dan Kenneth Scott Latourette, menyebut bahwa teologi Calvin cenderung menghambat semangat misi dan penginjilan lintas budaya. Namun, kajian-kajian terbaru mulai menunjukkan bahwa pemahaman ini perlu ditinjau ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali dimensi misioner dalam kehidupan dan pemikiran teologis Calvin, serta relevansinya bagi misi Gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis melalui studi kepustakaan. Literatur-literatur diperoleh dari karya-karya Calvin, termasuk Institutes of the Christian Religion, khotbah, surat pribadi, dan dokumen Consistory Gereja Jenewa. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi, analisis historis-kritis, dan sintesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun tidak mengembangkan model misi formal seperti dalam misiologi modern, teologi Calvin secara implisit memiliki landasan misioner yang kuat. Pemahaman Calvin tentang kedaulatan Allah, pemilihan, dan pengutusan Gereja justru mendorong penginjilan aktif. Praktik pengutusan penginjil dari Gereja Jenewa ke wilayah-wilayah lain di Eropa menjadi bukti konkret perhatian Calvin terhadap mandat misi. Dengan demikian, pemikiran Calvin dapat memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teologi misi yang berakar pada Kitab Suci dan kontekstual bagi tantangan Gereja masa kini.
Exploring Dalihan Na Tolu Philosophy in Batak Society towards Disability: Equality, Context, and Inclusion Sibagariang, Julius Stefanus
Indonesian Journal of Disability Studies Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : The Center for Disability Studies and Services Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijds.2025.12.2.6

Abstract

This artoicle aims to demonstrate the importance of the relationship between philosophy and disability by exploring the perspective of the Dalihan Na Tolu philosophy, which originated from the culture of the Batak society in Indonesia. Batak society emphasizes loyalty and adherence to the deep-rooted and friendly philosophy of Dalihan Na Tolu. This philosophy forms the basis of the Batak society's social relationships, helping to determine social status, function, and attitude. Although Dalihan Na Tolu philosophy has been widely used as a guideline in social interactions, there has been minimal attention to its relevance in disability. Through qualitative research methods with a literature approach, this essay reveals that the Dalihan Na Tolu philosophy can raise awareness of people with disabilities by emphasizing the importance of equality, contextualization, and inclusiveness implemented through respect, love, and support. This essay emphasizes the need to integrate the Dalihan Na Tolu philosophy towards persons with disabilities as a framework for understanding and promoting the rights and well-being of individuals with disabilities. The results of this essay can contribute to creating a more equal, contextual, and inclusive environment for all society, especially for those with disabilities.