Laksa Tangerang merupakan warisan kuliner yang mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa-Melayu dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen terhadap kualitas Laksa Tangerang, meliputi rasa, tekstur, kualitas bahan, pelayanan, dan nilai budaya. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan konsumen dan pelaku usaha, serta observasi partisipatif di sentra penjualan Laksa Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan konsumen dipengaruhi secara dominan oleh keaslian rasa (kuah santan kental dan rempah lokal), tekstur mi (ketebalan dan kekenyalan), serta nilai nostalgia budaya. Faktor pendukung lain mencakup kebersihan, harga terjangkau (Rp10.000–Rp30.000 per porsi), dan strategi pemasaran berbasis media sosial. Tantangan utama terletak pada persaingan dengan makanan modern, yang dapat diatasi melalui inovasi penyajian (misalnya mi berwarna untuk menarik anak muda) dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Temuan ini memperkuat pentingnya integrasi antara pelestarian budaya dan pengembangan usaha kuliner tradisional, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pelaku usaha dan pemerintah dalam meningkatkan daya saing Laksa Tangerang.
Copyrights © 2024