Penyandang disabilitas, yang mencakup sekitar 15% populasi global, menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk akses terhadap hunian layak dan inklusif. Di Indonesia, terdapat 16,5 juta penyandang disabilitas pada 2022, namun banyak rumah subsidi yang belum memenuhi standar aksesibilitas bagi kelompok ini. Sebagian besar perencanaan hunian tidak memperhatikan prinsip desain inklusif, sehingga mengakibatkan keterbatasan aksesibilitas, minimnya fasilitas yang mendukung mobilitas, dan ketiadaan jalur khusus seperti ramp. Rumah subsidi merupakan program pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, namun implementasinya seringkali mengabaikan kebutuhan disabilitas. Padahal, dengan pendekatan desain yang tepat, rumah subsidi dapat mendukung kemandirian dan kesejahteraan penyandang disabilitas tanpa menambah biaya konstruksi secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter desain rumah subsidi inklusif, khususnya bagi penyandang tuna daksa, melalui kajian prinsip desain universal, ergonomi, dan antropometri. Hasilnya diharapkan dapat memberikan panduan desain dan solusi arsitektural yang aplikatif. Dengan desain yang inklusif, rumah subsidi tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga menciptakan lingkungan yang ramah, mendukung kemandirian, dan meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas, khususnya tuna daksa. Hal ini relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang mendorong kesetaraan dan inklusivitas. Elemen penting dalam desain ini meliputi ruang yang memungkinkan penggunaan kursi roda dengan radius putar minimal 1,5 meter, ramp dengan kemiringan maksimal 7° dilengkapi railing, pintu lebar minimal 90 cm, handrail di dinding, serta fasilitas mandi dan kloset yang sesuai standar ergonomis. Implementasi desain inklusif ini tidak hanya menciptakan hunian yang nyaman dan aman, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan yang inklusif dan meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
Copyrights © 2025