Tulisan ini membahas hermeneutika kritis emansipatoris Hasan Hanafi sebagai pendekatan alternatif untuk memahami teks keagamaan, terutama Al-Qur'an. Hermeneutika ini berasal dari kegelisahan terhadap dominasi tafsir klasik, yang dianggap tidak menanggapi realitas sosial modern. Hanafi menawarkan model penafsiran yang menekankan pentingnya keadilan, pembebasan, dan relevansi sosial dengan menggabungkan metode ushul fiqh, fenomenologi, marxisme, dan hermeneutika. Hanafi menekankan bahwa penafsiran tidak hanya harus sah secara tekstual tetapi juga bermakna dalam konteks manusia melalui tiga tahap utama: kritik historis, kritik eidetik, dan kritik praktis. Metode ini menegaskan bahwa tafsir harus memiliki kemampuan untuk menjawab masalah umat dan berkembang menjadi kekuatan yang dapat mengubah masyarakat.
Copyrights © 2025