Pada fase remaja merupakan waktu bagi individu menjalin ketertarikan terhadap lawan jenis, minat karir dan eksplorasi identitas. Hal ini dapat menjadi pendorong bagi individu agar mempelajari, memahami, dan menerapkan sebagai langkah menghadapi fase perkembangan selanjutnya. Namun, tidak menutup kemungkinan keadaan ini juga dapat membuat ketegangan emosi pada remaja semakin bertambah karena perubahan emosional, minat, peran terhadap lingkungan yang menimbulkan tekanan sosial. Bahwa ketika seseorang mengalami putus cinta dan tidak mampu mengontrol emosinya sehingga dominan memunculkan emosi negatif seperti perasaan sedih, pesimis, sulit berkosentrasi, gangguan tidur, hingga hilangnya nafsu makan. Fenomena putus cinta pada seseorang seringkali terjadi dan merupakan keadaan dimana psikologis seseorang mengalami dampak diantaranya harga diri rendah, cemas, tertekan, stress, depresi, bahkan menyebabkan perilaku bunuh diri. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan regulasi emosi terhadap self compassion pasca putus cinta pada mahasiswa di Kota Makassar. Beberapa implikasi seperti perbedaan usia, jenis kelamin, peran orang tua dan lingkungan. Data dikumpulkan dengan skala self compassion scale (SCS) dan emotion regulation questionnaire (ERQ) kemudian dianalisis dengan menggunakan uji deskriptif dan uji statistik non parametrik Spearman’s Rho. Hasil penelitian ini diperoleh hasil koefisien korelasi r = 0,201, p < 0,05 bahwa terdapat hubungan positif yang lemah antara regulasi emosi terhadap self compassion pasca putus cinta.
Copyrights © 2025