Gangguan menstruasi merupakan masalah umum yang dialami oleh remaja putri dan dapat memengaruhi kualitas hidup mereka. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam gangguan menstruasi adalah status gizi, yang diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan: Mengetahui hubungan antara IMT dengan gangguan menstruasi pada siswi di SMAN 14 Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah sampel sebanyak 297 siswi yang telah mengalami menstruasi selama lebih dari tiga tahun. Responden dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi, yaitu remaja putri yang sehat dan mengalami keluhan terkait menstruasi. Hasil: Mayoritas responden berasal dari kelas 11 (54,5%) dan mengalami menarke pada usia 10–12 tahun (61,3%). Sebanyak 48,1% memiliki siklus menstruasi normal (21–35 hari), 47,8% mengalami polimenorea (siklus <21 hari), dan 4% mengalami oligomenorea (siklus >35 hari). Sebagian besar responden memiliki status gizi baik (79,8%), 7,7% tergolong kurang gizi, dan 12,5% tergolong gizi lebih. Gangguan menstruasi yang dilaporkan meliputi dismenore (67,7%), amenore sekunder (32,3%), dan menoragia (43,1%). Sebanyak 55,2% responden merasa bahwa menstruasi mengganggu aktivitas sehari-hari mereka, namun hanya 23,2% yang merasa perlu mencari pengobatan medis. Terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan gangguan menstruasi seperti dismenore, amenore sekunder, dan menoragia (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan gangguan menstruasi, termasuk dismenore, amenore sekunder, dan menoragia (p < 0,05) pada siswi di SMAN 14 Bandung. Status gizi yang baik berkontribusi terhadap kesehatan reproduksi remaja. Oleh karena itu, upaya promosi gizi seimbang dan pola makan sehat perlu ditingkatkan guna mencegah terjadinya gangguan menstruasi pada remaja putri.]
Copyrights © 2025