Penelitian ini mengkaji gaya komunikasi laki-laki metroseksual di Kota Medan dalam menghadapi stigma sosial dan norma tradisional. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan berusia 18–50 tahun dan dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengungkapkan empat gaya komunikasi utama yang digunakan informan, yaitu dominan, terbuka, bersahabat, dan reflektif. Gaya dominan digunakan untuk menegaskan identitas dan membangun citra profesional, sementara gaya terbuka dan bersahabat memungkinkan terciptanya dialog yang inklusif dan nyaman. Gaya reflektif menunjukkan kedalaman pengalaman pribadi serta pemaknaan terhadap identitas diri. Temuan ini menunjukkan bahwa laki-laki metroseksual mampu menyesuaikan gaya komunikasi mereka dengan konteks sosial yang ada, sekaligus berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas mengenai identitas gender nonkonvensional dalam masyarakat modern.
Copyrights © 2025