Al Quds atau Yerusalem adalah kota kecil yang luasnya hanya kurang lebih 1 km persegi, sejarah mengenalnya sebagai kota tua yang sarat dengan pertumpahan darah, berbagai kekuatan imperium besar silih berganti menguasai kota ini, Babilonia, Peria, Romawi, dan dan 14 abad yang lalu Islam hadir sebagai pembebas kota ini. Hingga kini kota Al Quds berada dibawah kekuasaan bangsa penjajah Israel yang dengan gerakan zionismenya ingin mendirikan Negara Israel Raya yang terbentang dari sungai Nil di Mesir sampai sungai Euprat di Irak. Tentu bagi kaum muslimin Al Quds bukan sekedar kota suci, namun sebagai ibukota politik, maka membebaskan Al Quds dari tangan Israel adalah keharusan. Proyek pembebasan ini tidaklah mudah, kaum muslimin harus memahami peta geopilitik sebagai prasaratnya. Artikel ini merupakan kajian penelitian sejarah bagaimana strategi Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al Ayyubi dalam membebaskan Al Quds. Metode penelitian ini menggunakan kajian strategi geopolitik dengan analisa letak geografis Al Quds yang diisyaratkan dalam surat At Tiin. Dengan memahami ini, strategi yang pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al Ayyubi adalah melakukan penaklukan-penaklukan kecil terhadap wilayah-wilayah penyangga kota Al Quds, terutama Mesir dan Suriah (wilayah bagian Syam). Hingga dalam kontek kekinian kedua wilayah ini memiliki arti penting Al Quds dan Palestina, dengan menguasainya akan mempermudah jalan menuju pembebasan kota suci itu. Jadi kunci rahasia pembeasan Al Quds adalah Mesir dan Suriah, sebagaimana Allah mengisyaratkan di awal surat At Tiin dengan sumpahnya, Wattiini wazzaitun watuurisina (Demi buah Tiin, zaitun, dan bukit Sinai). Para ahli tafsir mengatakan bahwa itu adalah Tiin adalah Syam, Zaitun adalah Al Quds, dan Bukit Sinai adalah Mesir.
Copyrights © 2019