Mangga (Mangifera indica L.) adalah salah satu buah tropis yang paling populer di Indonesia. Tanaman ini termasuk salah satu yang memiliki prospek untuk menjadi komoditas unggulan, baik untuk kebutuhan dalam negri maupun untuk tujuan ekspor, meskipun produksinya belum sebesar di Pulau Jawa. Di wilayah Sulawesi Tengah memiliki tanah subur dan iklim tropis yang mendukung pertumbuhan mangga. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali produksi mangga yaitu dengan penanaman bibit unggul. Cara memperoleh bibit unggul tersebut dapat dilakukan dengan perbanyakan secara vegetatif seperti teknik penyambungan (Grafting) serta menambahkan agen hayati berupa fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi jenis entres yang berbeda dan dosis mikoriza terhadap pertumbuhan sambung pucuk tanaman mangga, untuk mendapatkan dosis mikoriza terbaik terhadap pertumbuhan tanaman mangga sambung pucuk serta untuk mendapatkan jenis entres yang terbaik terhadap pertumbuhan tanaman mangga sambung pucuk. Penelitian ini dilaksanakan di lahan terbuka. Jl. Uegoyo, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Waktu penelitian dimulai dari bulan Febuari sampai Juni 2023. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor, yaitu faktor pertama dosis FMA dengan 3 taraf perlakuan yaitu: M0: Kontrol (tanpa mikoriza), M1: 5 g/polybag, M2: 10 g/polybag. Dan faktor kedua jenis entres dengan 3 jenis entres yang berbeda yaitu EL: Entres Manalagi, EA: Entres Arumanis dan EM: Entres Madu. Masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 3 kali sehingga memperoleh 27 unit percobaan, masing-masing unit terdapat 2 polybag sehingga terdapat 54. Hasil penelitian yang dilakukan menggunakan uji BNJ 5% diketahui bahwa dosis FMA terbaik terdapat pada 10 g/polybag. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu, tidak terdapat interaksi antar kedua perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman mangga sambung pucuk, perlakuan dosis FMA 10 g/polybag berpengaruh terhadap parameter periode muncul tunas, tinggi tunas pada umur 2, 4, 8, 10 dan 12 MSSP (Minggu Setelah Sambung Pucuk), jumlah daun dan jumlah spora. Serta terdapat pengaruh perlakuan jenis entres yang berbeda terhadap pengamatan jumlah spora.
Copyrights © 2025