ABSTRAKDalam rangka mendukung perencanaan pengelolaan, DAS Mikro Naruwan yang termasuk pada Sub DAS Keduang, DAS Solo, dilakukan identifikasi tingkat potensi bahaya tanah longsor. Penggunaan skala yang berbeda mempengaruhi tingkat kedetilan data. Analisis dilakukan dengan menggunakan software ArcMap 10.2 dengan data spasial yang terdiri dari intensitas hujan, kemiringan lahan, tipe batuan, keberadaan sesar, kedalaman regolit, penggunaan lahan, infrastruktur dan kepadatan pemukiman. Hasil analisis menunjukkan bahwa apabila menggunakan data penutup lahan skala 1:250.000, 86,4% lokasi penelitian merupakan lahan tidak rentan longsor dan 13,6% sedikit rentan. Namun demikian, bila mengunakan data skala 1:5.000 kategori kerentanan tersebut mengalami penurunan tingkat, yaitu kategori tidak rentan berubah menjadi agak rentan 64,2% dan 35,8% sedikit rentan, sedangkan kategori tidak rentan mengalami penurunan menjadi agak rentan dan sedikit rentan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan skala detil diperlukan dalam perencanaan pengelolaan DAS mikro dan menentukan skala prioritas penanganan. Longsor pada kategori agak rentan paling luas berada di Desa Bubakan (36%), disusul Wonokeling (19,0%) dan Wonorejo (8,6%). Secara fisik, prioritas penanggulangan bencana longsor secara berurutan lebih banyak di lakukan di Desa Bubakan, kemudian di Wonokeling dan Wonorejo.Kata kunci: mikro, DAS, longsor, skala, detilABSTRACTTo support watershed management planning of Naruwan Microcatchment, Keduang Sub Watershed, Solo Watershe. Identification of potential landslide vulnerability was conducted to support. Using the different scale is expected to influence the detail data. Analyses were performed using ArcMap 10.2 software with spatial data that consists of rainfall intensity, slope, rock type, fault, regolith depth, landuse, infrastructure and population density. The results showed that when using land cover data of 1: 250.000 scale, 86,4% of the area are not susceptible to landslides and 13,6% moderately low susceptible. However, when using the data of 1: 5.000 scale, landslide category has decreased its susceptibility level. Not susceptible category turned into moderately susceptible 64,2% and 35,8% moderately low susceptible, while the category declined not susceptible to be moderately susceptible and moderately low susceptible. This fact shows that the use of detailed scale is needed in the micro watershed management planning and it will determine the priority handling. Moderately susceptible landslide is mostly located in Bubakan village (36%), Wonokeling (19,0%) and Wonorejo (8,6%). Physically, the landslide disaster management priorities sequentially should be in the Bubakan village, then Wonokeling and Wonorejo.Keywords: micro, watershed, landslide, scale, detail
Copyrights © 2016