Cendana (Santalum album Linn.) merupakan tanaman asli Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan eksploitasi cendana yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan penanaman kembali berdampak pada menurunnya populasi cendana secara alami. Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) merupakan organisme yang berasal dari golongan fungi yang menggambarkan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisme antara fungi dengan akar tanaman (Brundrett et al. 1996). Pemanfaatan FMA sebagai pupuk hayati adalah solusi alternatif untuk menghindari kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk anorganik (Sundari et al. 2011). FMA berpotensi besar sebagai pupuk hayati bagi tanaman karena memfasilitasi penyerapan hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, sebagai penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman dan meningkatkan hormon pemacu tumbuh (Prihastuti 2007). Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman jenis FMA di bawah tegakan cendana dan menganalisis keanekaragaman FMA lokal di sekitar rizozfer tegakan cendana pada beberapa lokasi di Nusa Tenggara Timur. Pengambilan contoh tanah dilakukan di bawah tegakan cendana pada tiga lokasi di Nusa Tenggara Timur. Setiap lokasi diwakili oleh 5 pohon cendana yang dipilih secara acak. Analisis data dilakukan secara deskriptif pada analisis kerapatan spora untuk karakterisasi jenis spora dari FMA. Hasil isolasi dan karaterisasi spora fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada rhizozfer cendana (Santalum album Linn.) di Nusa Tenggara Timur ditemukan 26 tipe spora FMA. Keaneka ragaman jenis FMA lokal asal Desa Nano, HTC Buat dan Demplot Cendana Sisimeni terdapat 18 tipe spora FMA dari genus Glomus dan 8 tipe spora FMA dari genus Acaulospora. Kerapatan jenis spora FMA tertinggi berasal dari lokasi Desa Nano (229 spora/ 10 g tanah) yang merupakan tegakan alami dari tanaman cendana.
Copyrights © 2025