Visum et repertum memegang peranan penting dalam sistem pembuktian hukum pidana Indonesia, khususnya dalam perkara yang melibatkan kekerasan fisik dan seksual. Sebagai alat bukti surat yang sah, visum et repertum berfungsi untuk memberikan bukti objektif tentang keadaan korban yang diperiksa secara medis, baik dari aspek fisik maupun psikologis. Namun, penggunaan visum et repertum dalam praktik peradilan pidana di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti kualitas laporan medis, keterlambatan pengeluaran visum, interpretasi yang berbeda antar tenaga medis, serta potensi penyalahgunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan visum et repertum dalam sistem pembuktian hukum pidana Indonesia, serta tantangan yang dihadapi dalam penggunaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun visum et repertum memiliki kedudukan yang kuat sebagai alat bukti, tantangan-tantangan tersebut harus diatasi dengan peningkatan kualitas tenaga medis, pengawasan ketat terhadap prosedur pembuatan visum, serta peningkatan pemahaman oleh aparat penegak hukum.
Copyrights © 2025