Globalisasi membawa arus budaya global yang cepat dan masif, yang berdampak pada menurunnya minat generasi muda terhadap seni budaya lokal, termasuk tari tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan yang dihadapi anak muda dalam menjaga eksistensi tari tradisional Indonesia di era globalisasi. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara berbasis teks kepada tiga narasumber muda yang aktif di bidang tari tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun minat terhadap budaya lokal kerap tergerus oleh budaya populer asing seperti K-pop, anak muda tetap memiliki potensi besar sebagai agen pelestari budaya melalui pemanfaatan media sosial dan komunitas seni. Tantangan utama yang ditemukan meliputi kurangnya dukungan sosial, stigma terhadap tari tradisional, minimnya akses terhadap fasilitas seni, dan adanya budaya senioritas dalam komunitas tari. Namun demikian, generasi muda mampu menunjukkan komitmen pelestarian melalui partisipasi aktif dalam pertunjukan seni, lomba tari, serta kampanye digital kreatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian tari tradisional membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan dukungan sosial, inovasi digital, dan pembentukan ruang seni yang inklusif.
Copyrights © 2025