Mahasiswa tingkat akhir kerap mengalami tekanan emosional dan psikologis yang berkaitan dengan masa transisi menuju kehidupan dewasa, yang dikenal sebagai quarter-life crisis. Tekanan ini berdampak pada tingkat subjective well-being, terutama jika tidak diimbangi dengan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh quarter-life crisis terhadap subjective well-being dengan self-efficacy sebagai variabel moderator. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 255 mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Padang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan meliputi SWLS dan SPANE untuk subjective well-being, skala quarter-life crisis, serta skala General Self-Efficacy (GSE). Berdasarkan hasil uji regresi linier sederhana (t = -9.393, p = 0,001 (p < 0,01)) dan nilai R² sebesar 0,259 atau 25,9%, yang menunjukkan bahwa quarter-life crisis berpengaruh signifikan negatif terhadap subjective well-being. Sementara itu, hasil uji MRA (t = 3.728, p = 0,001 (p < 0,01)) dengan R² sebesar 0,825 atau 82,5%. Hasil ini membuktikan bahwa self-efficacy memoderasi hubungan antara quarter-life crisis dan subjective well-being. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi tetap dapat mempertahankan subjective well-being meskipun berada dalam fase quarter-life crisis.
Copyrights © 2025