Sosial Budaya
Vol 14, No 2 (2017): Desember 2017

KONDISI SOSIAL EKONOMI KOMUNITAS PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) MUARA FAJAR RUMBAI PEKANBARU: FENOMENA DAN SOLUSI

Asliati Asliati (Universias Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)



Article Info

Publish Date
30 Dec 2017

Abstract

Salah satu masalah sosial yang ada di tengah masyarakat adalah masalah kemiskinan. Adapun kemiskinan tidak akan bisa di berantas kalau hanya sebatas di jadikan bahan diskusi. Untuk itu perlu langkah konkrit untuk mengatasi kemiskinan tersebut. Karya tulisan ini hasil penelitian penulisĀ  di mana berusaha mengemukakan fakta sesuai fenomena yang ada dilapangan melalui hasil observasi dan wawancara dengan pemulung dan sumber terkait. Dalam tulisan ini penulis berupaya mengungkap fenomena pemulung di TPA Muara Fajar dan mengadakan analisis selanjutnya ditawarkan solusi. Tinjauan teori dikemukakan tentang seluk beluk pemulung dan konsep kemiskinan. Sangat banyak tinjauan definisi pemulung namun dapat disimpulkan pemulung adalah seorang atau sekelompok manusia yang penghidupannya diperoleh dari mencari atau mengumpulkan barang-barang bekas yang telah terbuang di tempat pembuangan sampah sebagai barang bekas. Sedangkan kemiskinan disimpulkan adalah kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Setelah data didapatkan dan dilakukan analisis maka diperoleh kesimpulan bahwa kondisi social ekonomi komunitas pemulung di TPA Muara Fajar Rumbai Pekanbaru adalah berada pada level memprihatinkan, hal ini berdasarkan tinjauan terhadap beberapa faktorĀ  berikut Faktor Pendidikan rata-rata pemulung hanya menamatkan Sekolah Dasar (SD). Faktor Pekerjaan bahwa pemulung tidak mempunyai pilihan lain karena keterbatasan akses kepada pekerjaan pada sektor formal. Faktor Penghasilan bahwa rata-rata hasil yang didapat dari pekerjaan sebagai pemulung hanya mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari dan sangat kesulitan ketika ingin memenuhi kebutuhan sandang dan papan. Faktor Perumahan kebanyakan pemulung yang ada di TPA Muara Fajar belum memiliki rumah sendiri dan hidup dalam rumah kontrakanĀ  yang sempit dengan jumlah keluarga tergolong besar dengan jumlah anak 3 sampai 6 orang. Faktor Pelayanan kesehatan bahwa pemulung cenderung ketika sakit tidak tidak buru-buru berobat ke Rumah Sakit atau ke Puskesmas dengan alasan keterbatasan biaya dan apabila berobat memakai kartu berobat gratis pemulung tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya. Adapun solusi yang ditawarkan adalah memberikan pelatihan life skill dengan harapan memperoleh penghidupan yang lebih baik.

Copyrights © 2017






Journal Info

Abbrev

SosialBudaya

Publisher

Subject

Education Social Sciences

Description

Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil ...