Transformasi digital menghadirkan tantangan dan juga peluang di bidang pendidikan dasar, khususnya di daerah pedesaan yang memiliki akses teknologi yang terbatas. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan dan dampak dari program Srawung Sinau sebagai langkah adaptasi teknologi digital bagi siswa sekolah dasar di Desa Blagung, Boyolali. Program ini merupakan bagian dari Hibah MBKM Universitas Sebelas Maret dengan pendekatan belajar yang berfokus pada komunitas yang mencakup inklusivitas, partisipasi, dan relevansi kontekstual. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi yang melibatkan partisipasi, wawancara semi-terstruktur, serta pengumpulan dokumentasi terkait kegiatan. Program ini menggabungkan penguatan literasi dasar, numerasi praktis, dan pelatihan dalam menggunakan aplikasi digital seperti Microsoft Word, Canva, dan Paint dalam lingkungan belajar yang komunikatif dan menarik. Temuan dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam literasi digital dan keterampilan abad ke-21 di kalangan siswa, termasuk kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan rasa percaya diri dalam menggunakan teknologi. Anak-anak menunjukkan minat yang tinggi dan aktif terlibat dalam proses belajar. Meskipun ada beberapa tantangan seperti kurangnya perangkat dan koneksi internet, hambatan ini dapat diatasi melalui kerjasama antara mahasiswa, guru, dan masyarakat desa. Sebagai kesimpulan, Srawung Sinau telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan, serta menjadi contoh pendidikan komunitas berbasis teknologi yang efektif di kawasan pedesaan Indonesia. Program ini memperkuat kerjasama antar berbagai pemangku kepentingan dan patut dijadikan acuan dalam pengembangan literasi digital di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Copyrights © 2025