Artikel ini mengulas fenomena pertumbuhan majelis sholawat di kalangan generasi muda yang mengalami berbagai perubahan, seperti penggunaan lagu-lagu terkenal dan ekspresi fisik yang provokatif, termasuk tren menari dalam majelis. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah fenomena itu masih sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Penulis mengaplikasikan pendekatan kualitatif melalui analisis fenomenologi terhadap praktik majelis sholawat modern, meliputi tradisi ngalap berkah, komodifikasi dalam industri hiburan, serta fungsi sholawat sebagai medium dakwah dan pengajaran spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun majelis sholawat berpotensi sebagai sarana dakwah yang efektif serta alat pelestarian tradisi keagamaan, unsur-unsur modernisasi seperti eksploitasi hiburan dan gerakan yang merangsang syahwat perlu dianalisis agar tidak menyimpang dari esensi spiritual dan adab keislaman yang dijunjung tinggi oleh Aswaja. Penulis menyarankan pemahaman yang mendalam serta pengawasan terhadap pengadaptasian sholawat dalam budaya populer demi mempertahankan kemurnian dan nilai-nilai spiritualnya
Copyrights © 2025