Penelitian ini berangkat dari fenomena menarik yang berulang selama visitasi akreditasi satuan pendidikan Kelompok Bermain (KB), di mana pendidik (bunda KB) hampir selalu menangis di sesi penutupan. Hal ini tidak banyak ditemukan pada lembaga sejenis seperti TK atau RA. Tulisan ini menganalisis kondisi psikologis pendidik KB yang menjadi latar belakang peristiwa tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi lapangan melalui observasi dan wawancara terhadap pendidik di 10 lembaga KB dan Pos PAUD di Kabupaten Grobogan dan Rembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangisan para pendidik merupakan ekspresi tekanan emosional yang kompleks. Mereka mengalami kecemasan, ketidakpastian, beban psikologis, dan stres akibat tuntutan akreditasi tanpa pembinaan yang memadai. Ketidaktahuan terhadap prosedur akreditasi, beban administratif yang tidak dipahami, serta minimnya pendampingan dari pengawas menjadi faktor utama. Selain itu, struktur pengelolaan yang tidak stabil, honorarium rendah, dan ketergantungan pada kebijakan desa semakin memperparah tekanan yang dirasakan. Tangisan di akhir visitasi merupakan puncak akumulasi dari tekanan, rasa lega, kelelahan, dan harapan yang tertumpuk dalam waktu lama. Penelitian ini menekankan pentingnya perhatian dari pemerintah terhadap pembinaan berkelanjutan bagi pendidik KB, serta pembentukan struktur pengawasan yang menyentuh langsung lembaga pendidikan PAUD di tingkat desa.
Copyrights © 2025