Latar Belakang: Filariasis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah tropis, termasuk Kabupaten Banyuasin. Kompleksitas vektor, kondisi lingkungan lahan basah, serta keterbatasan deteksi dini menyebabkan sulitnya pengendalian penyakit ini secara optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi mitigasi filariasis berbasis integrasi pendekatan ekologi spasial, deteksi molekuler, dan pengelolaan lingkungan. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan pemodelan MaxEnt untuk prediksi distribusi vektor berbasis variabel biofisik, serta teknik PCR untuk deteksi molekuler infeksi filarial pada nyamuk. Data lingkungan diperoleh melalui interpretasi citra satelit dan pengukuran lapangan, sedangkan pengelolaan lahan basah dievaluasi melalui analisis kondisi habitat vektor. Hasil: Hasil integrasi menunjukkan bahwa kombinasi faktor kelembaban, indeks vegetasi, dan kedekatan dengan genangan air merupakan prediktor utama keberadaan Mansonia spp. Deteksi molekuler mengonfirmasi adanya infeksi filarial pada nyamuk dari lokasi dengan prediksi tinggi oleh model spasial. Intervensi berbasis ekologi lokal terbukti mampu menurunkan kepadatan vektor.Kesimpulan: Pendekatan integratif antara model ekologi, deteksi molekuler, dan intervensi lingkungan memberikan kerangka kerja yang lebih adaptif dan presisi dalam upaya mitigasi filariasis. Strategi ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengendalian penyakit berbasis ekosistem di daerah endemis
Copyrights © 2025