Latar Belakang: Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global dengan tingkat kematian yang tinggi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kepatuhan terhadap pengobatan TBC sangat penting, namun sering terhambat oleh stigma sosial dari masyarakat, keluarga, hingga tenaga kesehatan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara stigma sosial dengan kepatuhan terhadap terapi tuberkulosis. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan literatur dengan pendekatan sistematis berdasarkan kerangka PICOS. Artikel dicari pada database Google Scholar, PubMed, Scopus, dan ScienceDirect, dengan rentang publikasi tahun 2020–2024. Kriteria inklusi mencakup studi primer dengan populasi pasien TBC dewasa yang mengalami stigma sosial dan mengukur kepatuhan terapi. Total 15 artikel dianalisis secara kualitatif. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan adanya hubungan signifikan antara stigma sosial dan kepatuhan terapi. Stigma eksternal memiliki pengaruh lebih besar dibanding stigma internal. Faktor-faktor lain seperti dukungan keluarga, pengetahuan pasien, dan kualitas layanan kesehatan juga turut memoderasi hubungan tersebut. Stigma menyebabkan penurunan motivasi, stres psikologis, dan keterlambatan pengobatan. Kesimpulan: Stigma sosial berdampak negatif terhadap kepatuhan pengobatan TBC. Diperlukan intervensi edukatif berbasis komunitas dan peningkatan dukungan keluarga untuk menurunkan stigma serta meningkatkan keberhasilan terapi.
Copyrights © 2025