Serangga adalah salah satu organisme dengan tingkat keanekaragaman spesies tertinggi di dunia. Kampus Universitas Sali Al-Aitaam berada di Desa Cipagalo Kabupaten Bandung yang dikelilingi oleh berbagai tipe ekosistem, seperti persawahan, ladang, kebun, dan permukiman. Area di Desa Cipagalo banyak mengalami perubahan penggunaan lahan dari pertanian menjadi permukiman. Adanya perubahan fungsi lahan ini menciptakan kondisi ekosistem yang majemuk sekaligus dinamis yang dapat memengaruhi keragaman spesies serangga yang hidup di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan dengan pengumpulan data serangga secara langsung untuk mengetahui keragaman populasi serangga menggunakan perangkap likat kuning dan perangkap atraktan berbasis feromon seks. Pengamatan terhadap efektivitas perangkap dilakukan selama 96 jam setelah pemasangan. Serangga yang tertangkap kemudian diidentifikasi hingga tingkat spesies. Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah spesies serangga pada perangkap likat kuning lebih beragam dibandingkan dengan perangkap atraktan. Perangkap likat kuning memerangkap 13 spesies serangga yang terdiri atas 8 spesies hama, 2 spesies predator, 1 spesies pollinator, dan 2 spesies pengurai. Perangkap atraktan hanya memerangkap 4 spesies hama. Berdasarkan Indeks Kekayaan Jenis Margalef (R1), perangkap likat kuning menunjukkan nilai 1,6 dan perangkap atraktan menunjukkan nilai 0,5. Artinya, kekayaan spesies termasuk ke dalam kategori rendah. Berdasarkan Indeks Kesamaan Jenis Jaccard (Cj) menunjukkan nilai 0,308 yang berarti tingkat kesamaan spesies serangga pada kedua perangkap relatif rendah. Hasil pengamatan pada kedua perangkap menunjukkan lingkungan Kampus Universitas Sali Al-Aitaam memiliki struktur habitat yang kompleks dan mendukung keragaman fungsi serangga.
Copyrights © 2025