Salah satu sistem pendidikan islam tradisional, serta dianggap mampu berdaya saing dengan sistem pendidikan lainnya adalah pesantren. Secara faktual-historis, pesantren terbukti mampu memberikan pendidikan paripurna dengan kemasan yang khas. Namun ironisnya, pada perkembangan di akhir abad ini branding demikian memudar seolah tergerus oleh derasnya arus globalisasi, sehingga menuntut adanya re-desaigning kurikulum pesantren yang inklusif, namun tanpa harus meninggalkan jati dirinya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan kerangka main map model pendidikan inklusif sebagai satu peluang sekaligus ancaman bagi kelangsungan eksistensi pesantren. Mitra sasaran adalah 60 santri Pondok Pesantren Mardhatulloh Al Islamy. Adapun metode yang digunakan adalah brainstorming dan ceramah. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman sebesar 60 % terkait integrasi kurikulum dengan teknologi.
Copyrights © 2025