Proses curing pada industri manufaktur ban merupakan tahap kritis dengan konsumsi energi tinggi yang berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon dan biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama downtime mesin curing dan mengembangkan strategi perbaikan berbasis Total Productive Maintenance (TPM) dan Root Cause Failure Analysis (RCFA). Data dikumpulkan dari 240 unit mesin curing selama periode Januari–Juni 2025, mencakup durasi downtime dan konsumsi energi dalam kondisi idle. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi perbaikan seperti autonomus maintenance, pemasangan andon system, dan pelatihan operator mampu menurunkan downtime hingga 45% dalam tiga bulan. Dampaknya, konsumsi energi idle turun signifikan, menghasilkan penghematan energi sebesar ±76 juta kWh listrik, ±152 juta kg steam, dan ±24 juta Nm³ nitrogen. Hal ini setara dengan pengurangan emisi sebesar ±84.912 ton CO₂ dan efisiensi biaya mencapai Rp 181,8 miliar dalam tiga bulan operasional. Jika diekstrapolasi secara tahunan, penghematan ini berpotensi mencapai ±Rp 727 miliar atau sekitar 18% dari total biaya operasional tahunan proses curing. Penelitian ini memberikan bukti bahwa pendekatan TPM dan RCFA tidak hanya meningkatkan keandalan mesin, tetapi juga mendukung transformasi industri menuju energi rendah emisi.
Copyrights © 2025