Permintaan energi listrik rumah tangga di Indonesia yang terus meningkat mendorong pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya melalui sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Penelitian ini bertujuan menganalisis sensitivitas harga instalasi sistem PLTS rumah tangga terhadap kelayakan ekonomi menggunakan pendekatan Levelized Cost of Energy (LCOE) dan dibandingkan dengan Tarif Dasar Listrik (TDL) tahun 2025 sebesar Rp 1.444,7/kWh. Data harga komponen diperoleh dari e-commerce, dengan biaya instalasi diasumsikan sebesar 10% dari total komponen, umur sistem 20 tahun, biaya pemeliharaan tahunan sebesar 1%, dan tingkat diskonto 6%. Tiga skenario investasi digunakan: skenario 1 (Rp 30.800.000), skenario 2 yang lebih murah 10% (Rp 27.720.000), dan skenario 3 yang lebih mahal 10% (Rp 33.880.000). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa LCOE masing-masing adalah Rp 2.050/kWh (skenario 1), Rp 1.845/kWh (skenario 2), dan Rp 2.255/kWh (skenario 3). Ketiganya masih lebih tinggi dari TDL sehingga belum layak secara ekonomi. Analisis sensitivitas menunjukkan Break Even Point (BEP) tercapai pada nilai investasi Rp 22.575.289,31. Dengan demikian, agar sistem PLTS layak secara ekonomi, biaya investasi harus ditekan di bawah nilai tersebut. Hasil ini menunjukkan pentingnya efisiensi biaya dan dukungan kebijakan untuk mendorong adopsi PLTS skala rumah tangga.
Copyrights © 2025