Kontroversi politik seperti batas usia calon wakil presiden dan kuota kursi DPRD memicu respons publik yang sangat kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aspek kognitif dan emosional dalam membentuk opini politik masyarakat Indonesia, khususnya terkait dengan isu-isu politik di tahun 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain konvergen, mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB), Dual Process Theory (DPT), dan Uncertainty Management Theory (UMT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku memiliki pengaruh signifikan terhadap niat membagikan opini politik. Emosi memainkan peran penting dalam memperkuat ketiga konstruk TPB, serta membentuk sikap pro atau kontra terhadap kebijakan. Selain itu, ketidakpastian yang dihadapi dalam isu politik sering kali dikelola dengan mencari informasi lebih lanjut, namun dalam beberapa kasus, ketidakpastian sengaja dipertahankan sebagai bentuk skeptisisme. Temuan ini mengindikasikan bahwa niat membagikan opini politik dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara faktor kognitif, emosional, dan pengelolaan ketidakpastian. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan literasi digital dan politik agar masyarakat dapat menyikapi isu politik dengan lebih rasional dan kritis, serta mengelola emosi dalam bereaksi terhadap kebijakan publik.
Copyrights © 2025