Perlawanan terhadap moralitas seksual patriarkal dan pembentukan subjektivitas perempuan merupakan dua gagasan utama dalam Midah Simanis Bergigi Emas dan Larasati karya Pramoedya Ananta Toer. Midah menolak sistem pernikahan paksa dan memilih hidup mandiri sebagai penyanyi jalanan, hingga akhirnya meniti karier di dunia radio dan film. Ara, dalam konteks revolusi pascakemerdekaan, menolak tampil dalam film propaganda Belanda dan tidak merasa malu atas masa lalunya yang dianggap menyimpang oleh norma sosial. Keduanya memperluas ruang gerak perempuan dari ranah domestik ke ranah publik—Midah melalui kerja, Ara melalui sikap politik—sembari mempertahankan pilihan hidup mereka dengan tegar. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan merujuk pada teori Georg Lukács dan Lucien Goldmann untuk menganalisis proses pembentukan subjektivitas tokoh melalui refleksi struktur sosial, ideologi patriarki, dan dunia batin penulis. Melalui pendekatan ini, studi ini mengungkap bagaimana Pramoedya merepresentasikan individu ‘bermasalah’ yang mencari makna dan keutuhan hidup dalam masyarakat yang menindas.
Copyrights © 2025