Prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2023 sebesar 30,8% mengalami penurunan dari tahun 2018 yaitu 34,1% akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara penderita yang terdiagnosis hipertensi dan yang menjalani pengobatan atau kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan. Meskipun ada penurunan prevalensi hipertensi, upaya lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan bahwa penderita hipertensi mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Hipertensi menjadi faktor disabilitas yang dialami oleh 22,2% penderita usia di atas 15 tahun. Kondisi tersebut membutuhkan peran kader kesehatan dalam penatalaksanaan hipertensi karena kader kesehatan sebagai perantara masyarakat dengan tenaga kesehatan. Kader kesehatan perlu diberikan pelatihan tentang penatalaksanaan hipertensi. Penatalaksanaan hipertensi mencakup berbagai upaya, baik non-farmakologis (terapi gaya hidup) maupun farmakologis (penggunaan obat). Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologi hipertensi meliputi senam hipertensi dan relaksasi autogenik. Tujuan dan sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pelatihan penatalaksanaan hipertensi pada kader kesehatan di RW 09 Kelurahan Tambakaji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Metode yang digunakan pelatihan dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan pelatihan tentang senam hipertensi serta relaksasi autogenik. Hasil pengabdian masyarakat didapatkan 75% peserta pengetahuan tentang hipertensi baik, mampu melakukan senam hipertensi dan relaksasi autogenik dengan benar, menerapkan dalam kehidupan srehari-hari dan menginformasikan pada masyarakat saat kegiatan posbindu.
Copyrights © 2025