In order for graduates to be able to adapt in the competitive world of work, vocational education currently demands technical skills and global capabilities (6C). This study aims to analyze the effect of Factory learning on global capabilities (6C) and learning achievement of grade XII students in the Machining Practice training course at SMKN 1 Semarang. This is because, although the Learning Factory (TEFA) is designed as a learning model that integrates the world of work into schools, it still needs a comprehensive study on how it functions in shaping global capabilities and learning achievement. This study was conducted using a quantitative approach with an ex-post facto design and involved 86 students who were selected proportionally at random. Data were collected through a questionnaire to measure TEFA implementation and student proficiency globally. Furthermore, documentation of practical grades was used to measure learning achievement. Data analysis was conducted using descriptive statistics, simple linear regression, and the Chi-Square normality test. The results showed that TEFA did not have a statistically significant impact on both variables, despite a descriptive increase in global proficiency (mean = 75.11) and learning achievement (from 7.35 to 8.73). However, there was a significant correlation between the two variables (r > 0.99). Ineffective TEFA implementation, such as limited production and industry partnerships, contributed to this ineffectiveness. This study makes an important contribution by demonstrating that TEFA's success depends not only on the model's adoption but also on its depth and authenticity in application, which forms technically and professionally talented graduates. ABSTRAKAgar lulusan mampu beradaptasi di dunia kerja yang kompetitif, pendidikan vokasi saat ini menuntut keterampilan teknis dan kemampuan global (6C). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran Pabrik terhadap kemampuan global (6C) dan prestasi belajar siswa kelas XII pada mata diklat Praktik Pemesinan di SMKN 1 Semarang. Ini karena, meskipun Teaching factory (TEFA) dirancang sebagai model pembelajaran yang mengintegrasikan dunia kerja ke dalam sekolah, masih perlu dikaji secara menyeluruh tentang bagaimana ia berfungsi dalam membentuk kemampuan global dan prestasi belajar. Studi ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex-post facto dan melibatkan 86 siswa yang dipilih secara proporsional secara acak. Data dikumpulkan melalui angket untuk mengukur penerapan TEFA dan kemampuan siswa di seluruh dunia. Selain itu, dokumentasi nilai praktik digunakan untuk mengukur prestasi belajar. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, regresi linier sederhana, dan uji normalitas Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa TEFA tidak berdampak signifikan secara statistik terhadap kedua variabel tersebut, meskipun peningkatan deskriptif pada kemampuan global (mean = 75,11) dan prestasi belajar (dari 7,35 menjadi 8,73). Namun, ada korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut (r > 0,99). Tidak efektifnya penerapan TEFA, seperti keterbatasan produksi dan kemitraan industri, menyebabkan ketidakefektifan ini. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan membuktikan bahwa keberhasilan TEFA tidak hanya tergantung pada adopsi model, tetapi juga pada kedalaman dan keasliannya dalam penerapan, yang membentuk lulusan yang berbakat secara teknis dan profesional.
Copyrights © 2025