Kajian ini mengeksplorasi Kuring Leungiteun , sebuah lagu tradisional Sunda, sebagai media advokasi ekologis melalui dimensi musikal, puitis, dan kulturalnya. Dengan menggunakan desain studi kasus instrumental kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana arsitektur komposisi—khususnya melodi, ritme, laras, tempo, dinamika, dan ornamen vokal—mewujudkan dan memperkuat duka ekologis dan perpindahan spiritual. Analisis ini mengacu pada teori fungsi musik Merriam, ekokritik sastra, teori glokalisasi, dan prinsip kosmologi Sunda Tri Tangtu di Buana , sebuah triad kosmologi Sunda yang melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, analisis audiovisual, dan studi musikologi dari berbagai adaptasi dari tahun 1989 hingga 2018. Temuan ini mengungkapkan bahwa Kuring Leungiteun bukan sekadar artefak budaya, melainkan narasi sonik yang digarap secara sadar: penggunaan laras madenda membangkitkan melankolis sakral, sementara tempo lambat, kendali dinamis, dan ornamen mikrotonal mengekspresikan trauma ekologis kolektif. Transformasi lagu ini lintas genre, mulai dari Celempungan hingga pop Sunda, menggambarkan kemampuan adaptasi glokal dan relevansi sosialnya yang abadi. Studi ini menegaskan bahwa musik tradisional dapat berfungsi sebagai platform penting bagi etika lingkungan, transmisi memori, dan keterlibatan publik sejalan dengan kerangka kerja global seperti SDG 13 dan 15. Studi ini merekomendasikan revitalisasi strategis bentuk-bentuk musik tradisional sebagai media partisipatif untuk keberlanjutan budaya dan kesadaran ekologis.
Copyrights © 2025