The function of the Qur’an as a guidance for humanity is variously interpreted among Muslims, including as a text possessing magical power for treating jin and witchcraft disturbances. This study aims to uncover the models of magical recitation of Qur’anic verses, the factors driving the institutionalization of such practices, and the responses of users of ruqyah syar’iyyah therapy at the Ruqyah Clinic on Jl. MT Haryono 83 Jember. This qualitative phenomenological research employed in-depth interviews, observation, and documentation. The findings indicate that ruqyah therapy is conducted in two forms, mass and individual, through three stages: preparation, core, and closing. The main driving factor behind the establishment of the Jember Ruqyah Team was to uphold monotheistic creed amidst the rise of mystical and shamanic practices. Patient responses varied from extreme reactions such as dizziness, screaming, and thrashing, to moderate responses like feeling lighter. In conclusion, ruqyah syar’iyyah serves as a last resort after medical treatment fails. It is recommended that such practices be critically examined to remain within Islamic legal boundaries. Fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk hidup sering dimaknai secara beragam oleh masyarakat Muslim, termasuk sebagai teks yang memiliki kekuatan magis untuk terapi gangguan jin dan sihir. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap model pembacaan magis ayat-ayat al-Qur’an, faktor-faktor yang mendorong pelembagaan praktik tersebut, serta respons masyarakat pengguna layanan ruqyah syar’iyyah di Klinik Ruqyah Jln. MT Haryono 83 Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ruqyah dilakukan dalam dua bentuk, yaitu massal dan individual, melalui tiga tahapan: persiapan, inti, dan penutup. Faktor utama pendirian Tim Ruqyah Jember adalah untuk menegakkan akidah tauhid di tengah maraknya praktik mistik dan perdukunan. Respons pasien bervariasi dari reaksi ekstrem seperti pusing, teriak, hingga meronta, hingga respons moderat seperti rasa ringan di tubuh. Kesimpulannya, ruqyah syar’iyyah menjadi alternatif terakhir setelah pengobatan medis gagal. Direkomendasikan agar praktik ini terus dikaji secara kritis agar tidak keluar dari bingkai syariat.
Copyrights © 2009