Fathiyaturrahman Fathiyaturrahman
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Ibu dalam Perspektif Al-Qur'an: Kajian Tematik dan Psikologis: The Concept of Motherhood in the Perspective of the Qur'an: A Thematic and Psychological Study Fathiyaturrahman Fathiyaturrahman
Fenomena Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v4i1.365

Abstract

Modernization and the emancipation movement have reshaped maternal roles, leading many mothers to prioritize careers over early childhood education, often guided by instinct rather than a deliberate choice. This study explores the Qur'anic concept of the mother, particularly her educational role, and examines its relevance to psychological findings on child development. Using a qualitative library research method, this study applies a thematic (maudu'i) interpretation of Qur'anic verses, complemented by a deductive-inductive and analytical-descriptive approach, along with psychological analysis. The findings reveal that the Qur'anic terms al-umm and al-walidah signify the mother as the core origin, a figure responsible for reproduction, breastfeeding, and serving as the primary educator during a child's early growth. The study also finds strong alignment with psychological research, which emphasizes that maternal presence is critical during early childhood to prevent maternal deprivation and ensure healthy intellectual, emotional, and social development. The study concludes that the mother holds a noble and strategic position as the first and main educator, and it recommends that mothers enhance their knowledge of both Islamic teachings and child psychology to prepare future pious and resilient leaders. Modernisasi dan gerakan emansipasi telah menggeser peran ibu, menyebabkan banyak ibu lebih mengutamakan karier daripada pendidikan anak usia dini, seringkali berdasarkan naluri而非 konsep yang sadar. Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep ibu dalam perspektif Al-Qur'an, khususnya peran pendidikannya, serta meneliti relevansinya dengan temuan psikologi tentang tumbuh kembang anak. Dengan metode penelitian kepustakaan kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir tematik (maudu'i) yang dilengkapi dengan pendekatan deduktif-induktif, deskriptif-analitik, dan analisis psikologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa istilah al-umm dan al-walidah dalam Al-Qur'an mengandung makna ibu sebagai sumber asal, sosok yang menjalankan fungsi reproduksi, menyusui, dan menjadi pendidik utama pada masa awal pertumbuhan anak. Studi ini juga menemukan keselarasan yang kuat dengan penelitian psikologi yang menekankan bahwa kehadiran ibu sangat kritis pada masa anak usia dini untuk mencegah deprivasi maternal dan memastikan perkembangan intelektual, emosional, dan sosial yang sehat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ibu memiliki kedudukan mulia dan strategis sebagai pendidik pertama dan utama, serta merekomendasikan agar para ibu meningkatkan pengetahuan mereka tentang ajaran Islam dan psikologi anak demi mempersiapkan pemimpin masa depan yang saleh dan tangguh.
Pembacaan Ayat-Ayat Al-Qur'an untuk Terapi Ruqyah Syar'iyyah: Studi Kasus di Klinik Ruqyah, Jln. MT Haryono 83, Jember: Recitation of Qur'anic Verses for Ruqyah Syar'iyyah Therapy: A Case Study at the Ruqyah Clinic, MT Haryono Street 83, Jember Fathiyaturrahman Fathiyaturrahman
Fenomena Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i2.449

Abstract

The function of the Qur’an as a guidance for humanity is variously interpreted among Muslims, including as a text possessing magical power for treating jin and witchcraft disturbances. This study aims to uncover the models of magical recitation of Qur’anic verses, the factors driving the institutionalization of such practices, and the responses of users of ruqyah syar’iyyah therapy at the Ruqyah Clinic on Jl. MT Haryono 83 Jember. This qualitative phenomenological research employed in-depth interviews, observation, and documentation. The findings indicate that ruqyah therapy is conducted in two forms, mass and individual, through three stages: preparation, core, and closing. The main driving factor behind the establishment of the Jember Ruqyah Team was to uphold monotheistic creed amidst the rise of mystical and shamanic practices. Patient responses varied from extreme reactions such as dizziness, screaming, and thrashing, to moderate responses like feeling lighter. In conclusion, ruqyah syar’iyyah serves as a last resort after medical treatment fails. It is recommended that such practices be critically examined to remain within Islamic legal boundaries. Fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk hidup sering dimaknai secara beragam oleh masyarakat Muslim, termasuk sebagai teks yang memiliki kekuatan magis untuk terapi gangguan jin dan sihir. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap model pembacaan magis ayat-ayat al-Qur’an, faktor-faktor yang mendorong pelembagaan praktik tersebut, serta respons masyarakat pengguna layanan ruqyah syar’iyyah di Klinik Ruqyah Jln. MT Haryono 83 Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ruqyah dilakukan dalam dua bentuk, yaitu massal dan individual, melalui tiga tahapan: persiapan, inti, dan penutup. Faktor utama pendirian Tim Ruqyah Jember adalah untuk menegakkan akidah tauhid di tengah maraknya praktik mistik dan perdukunan. Respons pasien bervariasi dari reaksi ekstrem seperti pusing, teriak, hingga meronta, hingga respons moderat seperti rasa ringan di tubuh. Kesimpulannya, ruqyah syar’iyyah menjadi alternatif terakhir setelah pengobatan medis gagal. Direkomendasikan agar praktik ini terus dikaji secara kritis agar tidak keluar dari bingkai syariat.