Poverty remains a critical issue affecting economic, social, and religious life, yet community-based solutions such as zakat management offer significant potential for alleviation. This study examines the empowerment programs designed by LAZ AZKA Al-Baitul Amin for poor zakat recipients and assesses their actual impact on community welfare. Using a qualitative research approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation, the study analyzes program designs and recipient outcomes. The findings reveal that most programs are incidental rather than sustainable, such as school supplies and disaster relief, while only a few, like educational scholarships and microcredit, involve ongoing assistance. Despite providing short-term economic relief, these programs have not yet achieved true empowerment, as recipients remain only at the level of basic needs fulfillment. The study concludes that zakat institutions must prioritize long-term, sustainable programs with mentoring and capacity building. Recommendations include selective targeting, continuous monitoring, and a shift from populist charity to structured empowerment strategies. Kemiskinan masih menjadi isu krusial yang mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial, dan keagamaan, namun solusi berbasis masyarakat seperti pengelolaan zakat menawarkan potensi besar untuk penanggulangannya. Penelitian ini mengkaji program pemberdayaan yang dirancang oleh LAZ AZKA Al-Baitul Amin bagi masyarakat miskin penerima dana zakat serta menilai dampak aktualnya terhadap kesejahteraan masyarakat. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menganalisis desain program dan hasil yang diterima penerima. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar program bersifat insidental, seperti bantuan perlengkapan sekolah dan bencana alam, sementara hanya sedikit program seperti beasiswa dan kredit mikro yang berkelanjutan dengan pendampingan. Meskipun memberikan bantuan ekonomi jangka pendek, program-program tersebut belum mencapai pemberdayaan sejati karena penerima hanya berada pada tingkat pemenuhan kebutuhan dasar. Penelitian menyimpulkan bahwa lembaga zakat harus memprioritaskan program berkelanjutan dengan pendampingan dan pengembangan kapasitas. Rekomendasi meliputi penargetan selektif, pemantauan berkelanjutan, dan pergeseran dari amal populis menuju strategi pemberdayaan terstruktur.
Copyrights © 2009