Penelitian ini bertujuan mengkaji proses ekranisasi cerita Aladdin dari Kisah 1001 Malam menjadi film Aladdin (2019), dengan fokus pada aspek tokoh, latar (waktu, tempat, sosial budaya), dan alur berdasarkan kategori pensil, penambahan, dan perubahan bervariasi berdasarkan teori ekranisasi Pamusuk Eneste. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses ekranisasi menyebabkan berbagai perubahan signifikan dalam struktur cerita. Perubahan tersebut meliputi: (1) Kesetaraan gender, ditampilkan melalui karakter Putri Jasmine yang memperjuangkan hak-haknya dalam sistem patriarki; (2) Lintas budaya, yakni pergantian latar tempat dari Tiongkok ke Agrabah yang merepresentasikan budaya Arab dan meningkatkan daya tarik global; dan (3) Keberagaman ras dan agama, dengan penggambaran tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang etnis dan keyakinan. Perubahan ini dinilai sebagai strategi sutradara untuk menarik minat penonton global dan meraih keuntungan komersial yang lebih besar dibandingkan versi kisah aslinya.
Copyrights © 2025