Pendidikan akhlak merupakan inti dari pendidikan agama Islam, dengan misi Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak. Di era globalisasi, kompleksitas problem akhlak menuntut pendekatan baru, salah satunya ma’rifatun nafs (mengenal diri) sebagaimana dikemukakan Abdullah ibn al-Mubarak. Penelitian ini bertujuan menjelaskan makna ma’rifatun nafs, implementasinya dalam pendidikan akhlak, dan posisinya sebagai epistemologi. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan sumber utama Ajaib al-Qalb karya Imam al-Ghazali dan analisis Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ma’rifatun nafs adalah pengetahuan tentang hakikat diri manusia, mencakup jasmani dan rohani (ruh, qalb, aql, nafs). Akhlak terbentuk dari kondisi qalb yang dipengaruhi aql dan syahwat. Qalb yang dikuasai syahwat melahirkan akhlak tercela, sedangkan yang mengendalikannya melahirkan akhlak terpuji. Pendekatan ini menjadi dasar epistemologis pembentukan kepribadian luhur. Moral education is central to Islamic education, with the Prophet Muhammad SAW tasked to perfect human character. In the globalization era, moral challenges require new approaches, such as ma’rifatun nafs (self-knowledge) as proposed by Abdullah ibn al-Mubarak. This study aims to explain the concept, its application in moral education, and its role as an epistemological foundation. Using library research with Ajaib al-Qalb by Imam al-Ghazali as the main source and Miles & Huberman’s analysis, the findings show that ma’rifatun nafs involves understanding human nature, both physical and spiritual (ruh, qalb, aql, nafs). Moral conduct stems from the qalb’s condition, influenced by aql and shahwat. A qalb dominated by shahwat yields vice, while controlling it produces virtue. This approach provides a solid epistemological basis for noble character formation.
Copyrights © 2024