Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana integrasi sosial dan resistensi sosial berpengarih terhadap dinamika pola interaksi antara masyarakat asli Papua dan pendatang di Provinsi Papua Barat Daya. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dalam penelitian sampel sebanyak 270 responden yang dipilih melalui teknik multistage random sampling dan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner, dan studi literatur, kemudian dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan dan parsial integrasi sosial dan resistensi sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pola interaksi sosial. Secara parsial, nilai thitung variabel integrasi sosial (24,830) dan resistensi sosial (32,619), lebih besar dari nilai ttabel (1,960) dengan signifikasi 0,01 < 0,05, yang menunjukkan baik integrasi sosial atau resistensi sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel pola interaksi sosial. Hasil uji simultan juga menunjukkan nilai fhitung (3379,052) lebih besar dari ftabel (3,04), dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05 yang menunjukkan secara simultan variabel integrasi sosial dan resistensi sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel pola interaksi sosial. Temuan penelitian mengindikasikan adanya hubungan sinergis antara keterbukaan terhadap keberagaman dengan upaya pelestarian identitas budaya lokal. Pola interaksi yang harmonis tidak hanya dibangun melalui proses integrasi, tetapi juga melalui bentuk resistensi. Implikasi sosial dari hasil penelitian menekankan pentingnya merancang kebijakan sosial yang berpijak pada budaya lokal dan sensitif terhadap dinamika relasi antaretnis. Kontribusi penelitian dalam pengembangan model teoritis interaksi sosial berbasis kearifan lokal sebagai acuan dalam membangun masyarakat multikultural yang adil dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025