Fenomena yang melatarbelakangi penelitian ini adalah terus meningkatnya angka kelahiran anak berkebutuhan khusus (ABK) setiap tahun. Dengan kondisi pertumbuhan dan perkembangan ABK yang abnormal, berpotensi menjadi tantangan bagi orang tua untuk bertahan dalam menyelesaikan tanggung jawabnya. Orang tua diharapkan memiliki resiliensi untuk dapat bertahan dari tantangan atau menerima keadaan anak. Apabila orang tua tidak mampu menerima keadaan bahkan tidak mampu bertahan, terdapat risiko mengalami gangguan kesehatan fisik dan juga gangguan kesehatan mental. Penelitian ini dilakukan selama bulan Agustus-November 2023 dengan tujuan mengetahui hubungan antara resiliensi dengan psychological well-being pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Metode dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner. Partisipan dalam penelitian ini adalah orang tua dari enam Sekolah Luar Biasa (SLB) yang tersebar di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Berdasarkan 280 data partisipan yang diperoleh, menunjukkan hubungan positif dan signifikan pada dua variabel penelitian (r=0.228 dan p<0.000). Adapun temuan lain, yaitu terdapat perbedaan laki-laki dan perempuan dalam psychological well-being (t=6112.500 dan p<0.05). Temuan lainnya menunjukkan perbedaan bidang pekerjaan dalam psychological well-being (t=16.458 dan p<0.05). Demikian pula pada tingkat pendidikan anak dalam psychological well-being (t=29.094 dan p<0.05).
Copyrights © 2025