Itraconazole merupakan obat anti jamur yang memiliki keterbatasan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi termasuk kedalam (Biopharmaceutical Classfication System) Kelas II. Hal ini menjadi permasalahan dalam bioavailabilitas yang dimiliki itraconazole sehingga menurunkan nilai terapetiknya. Oleh karena itu, perlunya meningkatkan kelarutan sehingga dapat meningkatkan laju disolusi, kelarutan dan absorbsi itraconazole. Untuk mengatasi keterbatasan itraconazole, maka dilakukan pengembangan teknologi formulasi terhadap peningkatan kelarutan dengan dibuat sistem vesicular dalam bentuk transfersom serta diinkorporasikan kedalam bentuk sediaan gel untuk mempermudah pengaplikasian transfersom itraconazole sebagai antijamur. Mekanisme transfersom dengan mengkombinasikan fosfolipid dan surfaktan sehingga membuat transfersom sangat fleksibel dan mampu menembus lapisan kulit yang sulit ditembus oleh sistem penghantaran obat konvensional. Untuk mengetahui keberhasilan transfersom dilakukan karakteristik transfersom yaitu pengujian Particle Size Analisis, Potensial Zeta, PDI dan Stabilitas. Formula transfersom pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi surfaktan dan fosfolipid yang digunakan 10%. Dari ke 3 formula tersebut didapatkan nilai PSA FT1 124 nm ± 0.47, FT2 135 ± 0.58, dan FT3 146± 0.47 memenuhi persyaratan <150 nm. Nilai Potensial Zeta ke 3 Formula FT1 -42.5 mV, FT2 -45.8 Mv dan FT3 -43.2 mV memenuh kriteria ±-35 mV. Nilai PDI mendekati 1 yang artinya sediaan formula transfersom Itraconazole homogen. Pengujian morfologi Transfersom menggunakan TEM. Pengembangan sediaan gel dengan komponen formula utama Carbopol dilakukan variasi konsentrasi 0.3%, 0.6% dan 0.9%. Didapatkan pH dan viskositas yang memenuhi persyaratan pada formula FCB 0.6 dengan pH 5.1 ± 0.2 dan viscositas gel 23453 cPs ±1.95.
Copyrights © 2025