Menopause ditandai dengan penurunan kadar estrogen yang memicu penuaan kulit melalui peningkatan aktivitas Matrix Metalloproteinase-1 (MMP-1), penurunan Tissue Inhibitor of Metalloproteinases (TIMP), dan percepatan degradasi kolagen. Terapi sulih hormon (Hormone Replacement Therapy/HRT) dapat membantu, namun penggunaannya jangka panjang berisiko menimbulkan kanker, stroke, dan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, diperlukan alternatif alami yang lebih aman. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), yang sering terbuang sebagai limbah, mengandung antosianin, flavonoid, dan betalain dengan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan fitoestrogenik. Senyawa tersebut mampu meniru efek estrogen, menekan stres oksidatif, menurunkan ekspresi MMP-1, serta meningkatkan kadar TIMP. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah menurunkan kadar malondialdehida (MDA), meningkatkan deposisi kolagen, dan menjaga ketebalan dermis pada model hewan menopause. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh ekstrak etanol kulit buah naga merah terhadap kadar MMP-1, TIMP, dan ketebalan dermis pada tikus ovariektomi. Kadar MMP-1 dan TIMP diukur dengan metode ELISA, sedangkan ketebalan dermis dianalisis secara histologis. Ekstrak ini diharapkan menurunkan kadar MMP-1, meningkatkan TIMP, serta mempertebal dermis. Dengan demikian, kulit buah naga merah berpotensi dikembangkan sebagai terapi anti-penuaan alami berbasis fitoestrogen sekaligus pemanfaatan limbah pertanian.
Copyrights © 2025