Infeksi parasit usus salah satu penyakit yang sering di jumpai di kalangan masyarakat namun kurang mendapatkan perhatian. Infeksi telur cacing Soil Transmitted Helminth disebabkan oleh kelompok cacing usus seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis, Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Menurut pravelensi survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 kecacingan di Indonesia berkisar 60%-90% Infeksi cacing usus berkembang sebanyak 12% terutama terjadi pada anak usia 5-14 tahun. Usia 5-10 tahun menjadi puncak kejadian secara epidemiologis. Pemeriksaan cacing STH dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Metode flotasi, sedimentasi dan direct slide merupakan penelitian kualitatif, sedangkan metode Kato-katz dan metode stoll merupakan penelitian kuantitatif. Metode flotasi yang didasarkan perbedaaan berat jenis larutan dan berat jenis telur yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas metode flotasi menggunakan larutan MgSO4 jenuh 35% dan larutan NaCl jenuh 35% untuk identifikasi telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan desain deskriptif kuantitatif dengan setiap sediaan diberi 3 perlakuan yang berbeda yaitu menggunakan larutan MgSO4 jenuh 35%, larutan NaCl jenuh 35% dan kontrol positif. Data yang diperoleh menggunakan SPSS Uji Shapiro wilk untuk normalitas dan dilanjutkan menggunakan Uji Kruskal-wallis. Hasil yang didapatkan terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan larutan MgSO4 jenuh 35% dan NaCl jenuh 35% pada proses pengapungan telur cacing Soil Transmitted Helminth. Disimpulkan bahwa larutan NaCl jenuh 35% lebih baik dari MgSo4 jenuh 35% menggunakan metode flotasi.
Copyrights © 2025