Meningkatnya kebutuhan akan proses bisnis yang efisien dan transparan mendorong organisasi mengadopsi Sistem Manajemen Workflow (WfMS). Penelitian ini mengkaji peran infrastruktur perangkat lunak, khususnya integrasi database, dalam mendukung WfMS berdasarkan wawasan teoretis dari Hollingsworth (1999), van der Aalst et al. (2005), Neumann dan Moerkotte (2022), serta studi kasus praktis oleh Dirman (2021). Penelitian menggunakan metode tinjauan literatur kualitatif untuk menganalisis komponen arsitektural WfMS dan ketergantungannya pada sistem manajemen data yang andal. Temuan menunjukkan bahwa WfMS tidak dapat berfungsi secara efektif tanpa infrastruktur perangkat lunak yang kuat, di mana database memainkan peran kritis dalam menyimpan instance proses, mengelola status eksekusi, dan mempertahankan catatan historis. Integrasi ini memungkinkan otomasi, pemantauan, dan koordinasi alur kerja kompleks yang melibatkan banyak aktor dan sistem. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi database bukan hanya pendukung, melainkan fondasi operasional WfMS. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya merancang sistem workflow dengan infrastruktur data backend yang kuat untuk menjamin skalabilitas, keandalan, dan integritas proses.
Copyrights © 2025