Kemiskinan di Gorontalo masih menjadi persoalan serius dan mendesak, dengan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, sehingga menuntut perhatian kebijakan yang lebih inklusif dan terarah. Kemiskinan masih menjadi persoalan utama pembangunan, terutama ketika kebijakan lebih berfokus pada infrastruktur dibanding pemerataan kesejahteraan. Paradoks ini menciptakan vicious cycle of poverty yang bersifat sistemik, seperti yang juga terlihat di Gorontalo. Pola kemiskinan terjadi di wilayah pesisir dan pedesaan, diperkuat oleh keterbatasan pendidikan serta kesehatan yang menimbulkan kemiskinan lintas generasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan kebijakan pembangunan masih parsial, tumpang tindih, dan minim partisipasi. Program bantuan lebih bersifat konsumtif, sementara pembangunan infrastruktur tidak dibarengi peningkatan kualitas manusia. Kondisi ini memperkuat lingkaran kemiskinan. Kesimpulannya, diperlukan reorientasi kebijakan dari growth oriented menuju people oriented development, dengan menekankan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat untuk memutus kemiskinan sistemik secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025