Artikel ini menelaah Matius 5:21–26 melalui pendekatan eksegetis dan teologis untuk memahami rekonsiliasi sebagai tanda spiritualitas iman Kristen. Kajian historis-gramatikal dan analisis literer menunjukkan bahwa Yesus menekankan rekonsiliasi lebih tinggi daripada praktik ritual keagamaan. Rekonsiliasi tidak hanya berfungsi sebagai solusi etis dalam relasi sosial, tetapi juga sebagai manifestasi ketaatan kepada Allah. Spiritualitas Kristen ditunjukkan melalui kesediaan mengampuni, berdamai, dan memulihkan hubungan yang rusak. Dengan demikian, rekonsiliasi merefleksikan kehidupan dalam Kerajaan Allah yang ditandai dengan kasih, keadilan, dan perdamaian. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi gereja masa kini dalam konteks pastoral, sosial, dan misi, di mana rekonsiliasi menjadi dasar ibadah sejati serta kesaksian iman di tengah dunia yang penuh konflik.
Copyrights © 2025